Waktu yang sangat lama berlalu setelah Tour, Reika yang
masih tidak berdaya di kasurnya, telah lama koma.
Senyuman manismu dikala menyambut pagi terlalu sayang bila
tanpa tujuan, lebih baik ditujukan untukku.
Cara yang paling mudah untuk tahu apakah kita cocok dengan
orang tersebut atau tidak adalah ketika kita merasa lupa waktu.
‘’Pagi adalah sebuah
berkah yang indah. Tak masalah cerah atau mendung. Karena pagi adalah awal
untuk memulai sesuatu yang disebut dengan kehidupan.’’
SHHHHH. Suara angin yang menyemangati pagi. Tanpa sadar
membangunkan tubuh mungil itu, mata nya yang indah mulai menunjukan dirinya, dia
yang mulai bingung melihat sekitar. Mulai mengingat kembali apa yang telah
terjadi sebelumnya, mulai membangunkan tubuhnya dengan perlahan, sambil memegang
kepalanya, di ruangan penuh putih ini. Kepala nya sangat pusing, perlahan
melihat seseorang yang telah menunggunya.
‘’Ikuta?’’
Ikuta yang tertidur pulas di sebelah kasur Reika, masih
setia menunggu Reika sadar dari tidurnya, dengan posisi tangan sebagai bantal,
dan hanya menggunakan kursi yang
disediakan, ditemani buku novel yang menemani nya sebelum ia tidur pulas.
Reika pun mulai menatapnya.
Perlahan tangannya mulai bergerak dan mendekati rambut
Ikuta..
Reika mulai mengusap pelan rambut nya dan tersenyum kecil.
Ikuta merasakan adanya kehangatan di rambutnya, Ikuta dengan
cepat memegang tangan yang masih berada di rambut nya. Ikuta mendongak ke
Reika.
Ikuta memeluk erat Reika, betapa rindu nya dia, senyum,
tingkah laku, kelucuan Reika. Semua dari Reika yang telah hilang dalam waktu
yang lama, Ikuta hanya bisa bersabar selama ini. Menunggu reika bukan lah waktu
yang cepat.
Reika membalas pelukan hangat Ikuta, kemudian melepaskan
nya..
Melihat sekeliling..
Terdapat banyak bunga yang tertata rapi di vas, sangat
banyak rangkaian bunga di meja.
‘’Itu dari siapa?’’ Reika menunjuk
Ikuta terpaku
‘’Wakatsuki, Wakatsuki yang memberikan semua itu, dia ingin
masuk ke ruangan ini untuk menjenguk mu, tetapi dia tidak mau selama aku masih
disini menemanimu’’
Tidak memperdulikan yang disampaikan Ikuta
Dia bergegas melepaskan selimut dari tubuhnya, melepaskan
infus dari tubuhnya, Reika berlari menuju luar ruangan.
‘’Reika!!’’
CEKLEKKK
BRANGGGG
Suara pintu yang sangat keras
Di sisi lain
Waka yang berada di taman rumah sakit, melihat seorang anak
kecil dengan topi yang menutupi seluruh bagian atas kepala nya, yang menutupi
bahwa rambutnya sudah habis karena penyakit
yang di deritanya saat ini, kesusahan mengambil layangan yang nyangkut
di atas pohon. Waka tersenyum dan menepok bahu anak kecil tersebut, dia
memanjat pohon. Tidak peduli dilihat orang sekitar.
‘’Ini punyamu kan?’’
Anak kecil tersebut mengangguk pelan, waka turun dari pohon
dan memberikan kembali layangan tersebut.
‘’Jangan sampai nyangkut lagi ya’’ waka mengusap kepala anak
tersebut.
Reika yang berlari sangat cepat, dan menerobos semua suster
yang mencegatnya, dia berdiri di depan pintu menuju taman.
Reika sudah tidak bisa menahan ke egoisan nya lebih lama
lagi. Dia berlari menuju Waka dan memeluknya. Waka yang terkejut pun tidak
percaya.
‘’Re—Reika?? Kamu gapapa??’’
Dia tidak menghiraukan pertanyaan Waka dan terus memeluk
Waka dengan erat.
Waka pun membalas pelukan Reika.
CKKITTT. BAMMMMM
Shiraishi yang baru saja turun dari mobil nya segera menuju
ruangan reika. Tapi yang ditemukannya hanya Ikuta. ‘’Ikuta, dimana mereka?’’
Ikuta hanya terdiam
‘’Ikuta, dimana mereka?’’ sambil memegang bahu Ikuta.
Ikuta langsung memeluk Shiraishi untuk menenangkan nya, Shiraishi
pun menangis karena dia tau apa arti dari pelukan Ikuta,
‘’Reika……’’ perlahan melepaskan pelukan Reika
‘’Kenapa kamu menangis ? Apa Ikuta melakukan sesuatu yang
buruk ke kamu? Ck, akan ku hampiri dia..’’ Waka perlahan berjalan meninggalkan
Reika.
Reika pun kembali memeluk Waka dari belakang ‘’Jangan
pergi..’’
Waka membalikkan badan nya dan
memeluk Reika kembali.
Reika tengah mengemas barang-barang nya dibantu Waka yang
sedang mengemas rangkaian bunga,
‘’Reika ini di buang aja gimana ?’’
‘’Ehhhh sayang banget kan kalau di buang..’’
‘’Ini bunga nya udah layu, tenang aja sayang aku gak akan
layu kok.’’
Tanpa sadar Waka mengatakan nya, ‘’Eh hahahaha maksud ku..’’
‘’Nanti pulang ku gonceng ya, ku tunggu di luar’’ ia
berjalan keluar meninggalkan Reika, sama sekali tidak menatap nya.
Reika dengan muka memerah tidak percaya apa yang dikatakan
Waka..
CKIITTTTT
‘’Ayo cepat Reika’’ Waka sambil mengebel
‘’Iya tunggu, terus ini barang-barang nya gimana ? kan ga
bisa di bawa kalau pake sepeda’’
Para Staff yang berada di belakang Reika mulai mengangkut
barang Reika ‘’Gapapa biar kita yang bawa, Reika-san pulang bareng Waka saja.’’
‘’Nah, ayo’’ Waka tersenyum.
Reika akhirnya duduk di kursi belakang Waka, dan memegang
baju Waka. Waka pun mengayuhkan sepedanya, angin yang bertiup, suasana jalanan
sepi, membuat keheningan diantara mereka berdua..
‘’Reika, kamu berat juga’’
‘’Gak berat tauukkk’’ sambil memukul pelan bahu Waka.
‘’Hahahahaha’’
Tiba-tiba Reika memeluk Waka dari belakang membuat jantung
Waka berdegup kencang, ia pun dapat merasakan jantung Reika yang berdegup
begitu kencang..
‘’Suki.’’
THE END
Telat update maaf yaa, karena pengen membuat ending yang
bagus dan takut mengecewakan, nanti mau buat fic lagi boleh saran buat pasangan
nya siapa komen aja XD ok, sekian.




