Sabtu, 17 Desember 2016

Rainbow of Love Part 5

Waktu yang sangat lama berlalu setelah Tour, Reika yang masih tidak berdaya di kasurnya, telah lama koma.
Senyuman manismu dikala menyambut pagi terlalu sayang bila tanpa tujuan, lebih baik ditujukan untukku.
Cara yang paling mudah untuk tahu apakah kita cocok dengan orang tersebut atau tidak adalah ketika kita merasa lupa waktu.
 ‘’Pagi adalah sebuah berkah yang indah. Tak masalah cerah atau mendung. Karena pagi adalah awal untuk memulai sesuatu yang disebut dengan kehidupan.’’
SHHHHH. Suara angin yang menyemangati pagi. Tanpa sadar membangunkan tubuh mungil itu, mata nya yang indah mulai menunjukan dirinya, dia yang mulai bingung melihat sekitar. Mulai mengingat kembali apa yang telah terjadi sebelumnya, mulai membangunkan tubuhnya dengan perlahan, sambil memegang kepalanya, di ruangan penuh putih ini. Kepala nya sangat pusing, perlahan melihat seseorang yang telah menunggunya.
‘’Ikuta?’’
Ikuta yang tertidur pulas di sebelah kasur Reika, masih setia menunggu Reika sadar dari tidurnya, dengan posisi tangan sebagai bantal, dan hanya menggunakan kursi  yang disediakan, ditemani buku novel yang menemani nya sebelum ia tidur pulas.
Reika pun mulai menatapnya.
Perlahan tangannya mulai bergerak dan mendekati rambut Ikuta..
Reika mulai mengusap pelan rambut nya dan tersenyum kecil.
Ikuta merasakan adanya kehangatan di rambutnya, Ikuta dengan cepat memegang tangan yang masih berada di rambut nya. Ikuta mendongak ke Reika.
Ikuta memeluk erat Reika, betapa rindu nya dia, senyum, tingkah laku, kelucuan Reika. Semua dari Reika yang telah hilang dalam waktu yang lama, Ikuta hanya bisa bersabar selama ini. Menunggu reika bukan lah waktu yang cepat.
Reika membalas pelukan hangat Ikuta, kemudian melepaskan nya..
Melihat sekeliling..
Terdapat banyak bunga yang tertata rapi di vas, sangat banyak rangkaian bunga di meja.
‘’Itu dari siapa?’’ Reika menunjuk

Ikuta terpaku

‘’Wakatsuki, Wakatsuki yang memberikan semua itu, dia ingin masuk ke ruangan ini untuk menjenguk mu, tetapi dia tidak mau selama aku masih disini menemanimu’’
Tidak memperdulikan yang disampaikan Ikuta
Dia bergegas melepaskan selimut dari tubuhnya, melepaskan infus dari tubuhnya, Reika berlari menuju luar ruangan.
‘’Reika!!’’
CEKLEKKK
BRANGGGG
Suara pintu yang sangat keras


Di sisi lain
Waka yang berada di taman rumah sakit, melihat seorang anak kecil dengan topi yang menutupi seluruh bagian atas kepala nya, yang menutupi bahwa rambutnya sudah habis karena penyakit  yang di deritanya saat ini, kesusahan mengambil layangan yang nyangkut di atas pohon. Waka tersenyum dan menepok bahu anak kecil tersebut, dia memanjat pohon. Tidak peduli dilihat orang sekitar.
‘’Ini punyamu kan?’’
Anak kecil tersebut mengangguk pelan, waka turun dari pohon dan memberikan kembali layangan tersebut.
‘’Jangan sampai nyangkut lagi ya’’ waka mengusap kepala anak tersebut.
Reika yang berlari sangat cepat, dan menerobos semua suster yang mencegatnya, dia berdiri di depan pintu menuju taman.
Reika sudah tidak bisa menahan ke egoisan nya lebih lama lagi. Dia berlari menuju Waka dan memeluknya. Waka yang terkejut pun tidak percaya.
‘’Re—Reika?? Kamu gapapa??’’
Dia tidak menghiraukan pertanyaan Waka dan terus memeluk Waka dengan erat.
Waka pun membalas pelukan Reika.


CKKITTT. BAMMMMM
Shiraishi yang baru saja turun dari mobil nya segera menuju ruangan reika. Tapi yang ditemukannya hanya Ikuta. ‘’Ikuta, dimana mereka?’’
Ikuta hanya terdiam
‘’Ikuta, dimana mereka?’’ sambil memegang bahu Ikuta.
Ikuta langsung memeluk Shiraishi untuk menenangkan nya, Shiraishi pun menangis karena dia tau apa arti dari pelukan Ikuta,

‘’Reika……’’ perlahan melepaskan pelukan Reika
‘’Kenapa kamu menangis ? Apa Ikuta melakukan sesuatu yang buruk ke kamu? Ck, akan ku hampiri dia..’’ Waka perlahan berjalan meninggalkan Reika.
Reika pun kembali memeluk Waka dari belakang ‘’Jangan pergi..’’
Waka membalikkan badan nya dan memeluk Reika kembali.


Reika tengah mengemas barang-barang nya dibantu Waka yang sedang mengemas rangkaian bunga,
‘’Reika ini di buang aja gimana ?’’
‘’Ehhhh sayang banget kan kalau di buang..’’
‘’Ini bunga nya udah layu, tenang aja sayang aku gak akan layu kok.’’
Tanpa sadar Waka mengatakan nya, ‘’Eh hahahaha maksud ku..’’
‘’Nanti pulang ku gonceng ya, ku tunggu di luar’’ ia berjalan keluar meninggalkan Reika, sama sekali tidak menatap nya.
Reika dengan muka memerah tidak percaya apa yang dikatakan Waka..

CKIITTTTT
‘’Ayo cepat Reika’’ Waka sambil mengebel
‘’Iya tunggu, terus ini barang-barang nya gimana ? kan ga bisa di bawa kalau pake sepeda’’
Para Staff yang berada di belakang Reika mulai mengangkut barang Reika ‘’Gapapa biar kita yang bawa, Reika-san pulang bareng Waka saja.’’
‘’Nah, ayo’’ Waka tersenyum.
Reika akhirnya duduk di kursi belakang Waka, dan memegang baju Waka. Waka pun mengayuhkan sepedanya, angin yang bertiup, suasana jalanan sepi, membuat keheningan diantara mereka berdua..
‘’Reika, kamu berat juga’’
‘’Gak berat tauukkk’’ sambil memukul pelan bahu Waka.
‘’Hahahahaha’’
Tiba-tiba Reika memeluk Waka dari belakang membuat jantung Waka berdegup kencang, ia pun dapat merasakan jantung Reika yang berdegup begitu kencang..
‘’Suki.’’

THE END


Telat update maaf yaa, karena pengen membuat ending yang bagus dan takut mengecewakan, nanti mau buat fic lagi boleh saran buat pasangan nya siapa komen aja XD ok, sekian.

Sabtu, 20 Agustus 2016

Rainbow of Love Part 4

              Akhirnya setelah beberapa bulan berlalu semenjak latihan. Musim Summer adalah musim yang sangat padat, semua member harus melakukan konser atau yang biasa di bilang tour di beberapa tempat yang sudah di jadwalkan. Hari ini, para member latihan di Jingu Stadium untuk persiapan Final Tour mereka, mereka tidak ingin melakukan kesalahan sekecil apapun. Berbeda dengan tour yang biasa mereka lakukan di tahun-tahun sebelumnya, kali ini mereka kehilangan sosok yang memeriahkan suasana panggung dengan MC yang membuat para penonton merasa terhibur, Reika sang kapten berhalangan hadir.


Beberapa bulan yang lalu

Reika berlari kembali menuju ruang latihan…
Ia bernafas tidak beraturan….
“Maaf… aku tidak menemukan mereka hehehehe” ia mengatakannya dalam keadaan tersenyum dan air mata yang sudah meluap di matanya. Reika harus sanggup menahannya agar tidak membuat Staff dan member lain tidak mencemaskan nya dan fokus kepada latihan hari ini.
Reika pun menghampiri Ikuta yang tengah latihan dan berdiri di depan kaca yang kemudian sedang melihat nya dari kaca tersebut. Reika membalas tatapannya dan tersenyum. Entah kenapa, detik demi detik pandangan Reika mulai buram dan dengan tubuh yang lemas, ia pun jatuh pingsan..
“Reika!! Reika!!” Ikuta menaruh kepala Reika di lengan kanan nya serta menepok-nepok pipi Reika…
Tanpa sadar,
Air mengalir dari mata Reika..
“Cepat panggil Ambulans!!”

Ngiung Ngiung Ngiung……….

Seperti dunia hanya milik mereka berdua mereka berpelukan tanpa melihat yang lain, Shiraishi memeluk Waka sangat erat, pada saat itu angin sepoi-sepoi sangatlah membuat tubuh siapa pun yang berada disana pasti menggigil kediginan tetapi karena mereka berpelukan rasa dingin itu pun hilang, Waka bisa merasakan detak jantung Shiraishi yang berdegup sangat kencang. Dalam keadaan masih didalam pelukan Waka, Waka pun menyarankan mereka untuk segera kembali dan Shiraishi membalasnya dengan anggukan pelan dan menurutinya. Dengan Waka berjalan di depan nya ia menarik kecil ujung kaos Waka dan menuntun nya dari belakang.

Beberapa staff dan member sudah tidak ada disana hanya sedikit staff yang duduk dengan tampang cemas, Waka dan Shiraishi hanya bingung dan melihat orang-orang yang disekitarnya . Mereka berusaha mencari tahu dan bertanya kepada salah satu staff apa yang terjadi, ketika mereka mendengar bahwa Reika pingsan dan dibawa ke rumah sakit terdekat Waka bergegas menuju parkiran dan mengayuh sepeda nya dengan secepat mungkin yang ia bisa. Shiraishi tidak menghalang nya dan hanya berdiri diam ditempat, ia tau Waka sangatlah sayang Reika dan mencemaskan keadaan Reika, Shiraishi pun cemas namun ia tak sanggup apa yang akan ia lihat nantinya. Karena Waka tau Reika sangat lah memeliki tubuh yang lemah namun ia diberikan kepercayaan untuk memimpin oleh para staff, Waka berpikir bahwa penyebab Reika pingsan adalah karena kelelehan.

Tubuh mungil itu terbaring di kasur putih, di ruangan putih tersebut, dengan para staff dan member menemani nya. Dokter mengatakan bahwa dia mengalami syok berat dan harus istirahat selama beberapa bulan, dan tentunya tidak bisa berpatisipasi tour tahun ini. Entah bagaimana, Ikuta dan Reika hanya berdua diruangan tersebut. Ikuta menggenggam tangan mungil itu dengan erat, menatap wajah Reika yang pucat.

Waka dengan tidak memerdulikan keadaan sekitar ia menaruh sepeda nya sembarangan, berlari menuju pintu rumah sakit, menanyakan letak kamar Reika sekarang. Lantai demi lantai, lorong demi lorong ia lalui, setiba ia di kamar tersebut, menatap wajah Reika yang pucat dengan Ikuta menemani Reika dengan tangan kanan yang masih digenggam nya. Waka pun mengurung kan niatnya..

To be continued?


Edisi telat update, maafkan diri ini kembali dengan cerita yang mungkin tidak memuaskan XD ditunggu aja kelanjutan nya ya.. btw, gws kapten! :’

find me on
youtube: low tension man46
instagram: wakarei
facebook: hashi-kun